Transformers 4: Age of Extinction

Posted in Film, Movies on 13 Juli 2014 by Budi Cahyono

transformers_age_of_extinction_ver10_xlgHai… ehem, lama tak jumpa. Haduh lebih dari setahun bokk, kemana aja gue, -bertanya ke tembok- hahah. Okelah, jadi baru-baru ini saya nonton Transformers 4: How to Train Your Dinobot, eh, keliru yak? maklum lagi puasa *ngeles

Tak ada yang banyak diharapkan dari seri ke empat franchise robot-robotan ini, tidak peduli sumpah serapah Bay tentang filmnya, sejak beliau menjanjikan Revenge of the Fallen lebih besar dari lebih sip dari sebelumnya, Bay tidak ubahnya seperti janji manis calon anggota legislatif kita. lah terus ngapain masih ditonton? jadi memang Bay ini setidaknya tetap punya imajinasi yang lumayan bagus tentang visual dan sound effectnya, dan tentu saja sound effectnya bener-bener mantap-surantap. Baca lebih lanjut

The Avenger

Posted in Arek Nonton, Bioskop, Film, Hollywood, Movies, Resensi, Review on 9 Mei 2012 by Budi Cahyono

Nonton-bareng film The Avenger bersama team Arek Nonton di SUTOS XXI, Surabaya.

Lagi-lagi nonton film di bioskop, namun kali ini berbeda dengan acara nonton film John Carter tempo hari, karena khusus film The Avenger ini, ritual nontonnya sedikit akbar, total peserta nobar berjumlah 32 orang. Filmnya sendiri berisi ensemble cast, dan rombongan penontonnya juga penikmat film semua. Klop deh 🙂

Apa yang membuat filmnya lumayan istimewa? Seperti halnya keistimewaan film Mission Impossible: Ghost Protocol, The Avenger rupanya disusupi banyak adegan komedi yang komikal dan berhasil menghibur. Memorable scene film ini? tentu saja saat Loki (Tom Hiddleston) marah pada Hulk (Mark Ruffalo versi CGI) sambil bilang “I am a God! I am not going to be bullied by a…” belum selesai bicara tiba-tiba Hulk membanting Loki seperti mainan sambil bilang “Puny God. ” Namun film ini secara umum masih dibawah ekspektasiku, pertama karena nuansanya yang berasa dejavu dengan film Transformers: Dark of the Moon, kedua, di beberapa adegan sempet bikin kantuk, padahal ini untuk pertama kalinya.

Baca lebih lanjut

Coldplay – Paradise

Posted in Musik, Video on 29 April 2012 by Budi Cahyono

Harusnya video klip ini menjadi salah satu yang terbaik tahun lalu, namun karena baru tau setelah salah seorang sahabat meyodorkan padaku untuk memutar video ini. Hasilnya ternyata amazing! Tidak ragu rasanya, menganugerahkan video klip ini dengan gelar video klip terbaik bulan ini, meski semua orang tau, saya terlambat mengucapkannya.

Nuansanya seperti dwilogy film Madagascar dengan efek yang nyaris sama megahnya dengan video klip Kings & Queens dari 30 Second to Mars.

Perhatikan reff-nya, koord massal memang selalu membuat bulu bergidik, melodius nan megah.

Mie Setan

Posted in Food, Jember, Kuliner, Makan, Mie, Resensi, Review on 23 April 2012 by Budi Cahyono

Senin malam di kosn gak ada pacar

Hemm, begitulah risiko hubungan jarak jauh, yang kalo katanya kakek buyutku sihlong distance relationship” itu.

Daripada boring di kosn, akhirnya gue (siah, orang kampung aja ngomong loe-gue-loe-gue, oke abaikan) memutuskan berkelana sendirian mencari makan malam. Maklum perut sudah Perang Dunia III sedari siang, entah siapa yang memulai duluan, yang jelas tidak ada dua pihak yang bertikai, mungkin hanya ulah seorang kopral koplak yang gak sengaja melempar martir. Ini ngomongin apaan coba? yuk balik ke topik utama.

Sampai di bunderan DPRD setelah melewati Jalan Jawa yang dulu terkenal karena lirik nakal dari sebuah lagu berjudul “Cinta Terlarang” karya band kakak angkatanku (Twin Bee), gue (ah, kata gaul ini lagi!) jadi teringat saran dari teman tentang sebuah warung yang menyediakan menu yang beraroma dedemit dan segala asosiasi yang berhubungan dengan neraka dan semua penghuninya.

Nama warungnya adalah: Mie Setan.

——————

Saat googling gambar dengan keywordsetan lagi makannemu gambar ini nih.

Mimpi apa tadi siang, malemnya tiba-tiba nyantap makanan setan. Well, anyway. Hendak berpaling dari warung ini, tapi setan sudah memanggil-manggil. Hendak berpaling dari warung ini, setan di perutku sudah melunta-lunta, Hendak berpaling dari warung ini, sudah kadung bergerak lurus, kalo tiba-tiba banting kanan, bisa diseruduk kendaraan dari belakang nih. Hendak berpaling….. Udah ah, cap cus saja cin *embeeerrr*

Warung Mie Setan (sengaja ku kasih warna merah menyala) ini terletak di sebelah selatan bunderan DPRD Kabupaten Jember, tepatnya di sebuah komplek ruko baru, pas dipinggir bunderan. Karena rukonya baru, ya warungnya juga baru buka (penting gak sih?), karena baru buka, antriannya masih lumayan masya Allah.

Sebenarnya di Jember sendiri menurut telik sandi ada dua warung yang menyediakan menu mie yang konon bisa membuat anda berkepala setan, ketawa setan, dan berkeringat laiknya hidup di sebuah tempat dengan temperatur kelas neraka, yaitu Mie Gila dan Mie Setan. Pilih yang mana? Karena acuan saya gila itu tidak waras atau hilang akal sedangkan setan itu bisa kita sandingkan dengan nafsu setan, tentu saja pilihan terakhir lebih menggoda iman. 🙂

Setelah bertemu dengan tukang parkir, gue langsung bergegas menuju meja order, penasaran dengan menu apa saja yang mereka tawarkan. Namun karena sedari awal nawaitu-nya sudah ingin nyemplung ke arena yang berbau neraka, jadinya ya mesen menu andalan lah. Selain mesen Mie Setan, gue juga mesen minuman sejuta ummat sebagai pendamping makan. Apalagi kalau bukan Es Teh. Anggaplah dia sebagai pemadam kebakaran. Btw, lanjut ngomongin makan bareng setan, eh nggak dink. Menu Mie Setan-nya sendiri disini dibedakan dengan berbagai level, mulai dari level I yang mungkin berarti kacangan sampai level paling sadis atau level “hanya perut setan yang sanggup” bahkan bisa jadi “setan pun belum tentu berani nyoba“. Baca lebih lanjut

Earth Day 2012

Posted in Animal, Earth Day, Film, Hari Bumi, Hewan, Lingkungan, Movies, Polution, Sosial, Tanaman, Uncategorized on 21 April 2012 by Budi Cahyono

Selamat hari Bumi buat semuanya (22/04/2012). Selain melakukan aksi sosial semisal menanam pohon dan lain sebagainya, enaknya sambil lalu nonton film yang bertemakan lingkungan.

Satu hal yang pasti, save the world!

Baru-baru ini selesai nonton WALL-E (2008), We Bought a Zoo (2011) dan Idiocracy (2006). Itu film yang ku tonton, bagaimana denganmu?

John Carter

Posted in 2D, 3D, Hollywood, Jember, Movies, Resensi, Review on 19 April 2012 by Budi Cahyono

Ah, akhirnya ke bioskop lagi. Terakhir nonton film di bioskop adalah Sherlock Holmes: A Game of Shadow akhir desember lalu di Surabaya, dan kini kembali ke bioskop untuk film John Carter di Kusuma Cineplex, Jember. Well, anyway. John Carter berkisah tentang anggota kavileri pembangkang bernama John Carter yang tiba-tiba berada di Planet Mars dengan penampakan yang “untold stories“, mendapat gelar Dotar Sojat dan dikisahkan secara flashback.

Nuansa filmnya nano-nano, mungkin saja karena kisah aslinya dianggap sebagai kisah fiksi ilmiah pertama. Pun dari beberapa nuansa film non-fiksi ilmiah lainnya. Namun John Carter datang terlambat, setelah Star Wars menjadi legenda, setelah Matrix lebih ngejelimet, dan tentu saja setelah semua film fiksi ilmiah bersetting Mars gagal di pasaran. Jadinya malah seperti sebuah pengulangan demi pengulangan cerita lawas dengan efek terkini yang sialnya tidak juga bombastis. Selain itu, kisahnya juga dirangkai dengan kedalaman yang terasa kurang dan nanggung, banyak mitologi yang belum terjelaskan dengan tuntas, dan sub-plot yang belum tergali dengan baik.

Finally. Walau beberapa sequence adegan laganya seru, tapi yang saya tunggu dari film ini adalah: Kapan film ini akan mengesankanku?

Hingga film usai, tidak jua kutemukan. Nasib… nasib

Sisanya?

Meski sudah berumur 34 tahun, Lynn Collins sebagai Dejah Thoris seksi juga yah.

In my opinion, seh……..

Beberapa penggalan review dari beberapa pengamat dan media luar negeri.

“..the trouble comes when the film gets too bogged down with its storytelling, as if it’s trying too hard to avoid accusations of superficiality..” ~ Dave Golder, SFX Magazine

“..the designs of everything from Martian cities to alien life forms lack the visionary qualities that lodge in one’s imagination..” ~ Peter Debruge, Variety

“..nothing here compares to the sustained choreography and epic carnage of Avatar and The Lord of the Rings..” ~ Jonathan Crocker, Total Film

“..it’s hard to pinpoint a standout set-piece, and every battle feels rushed..” ~ Dan Jolin, Empire Magazine

“..for a Pixar graduate piece, humor is notably lacking..” ~ Todd McCarthy, Hollywood Reporter

Catatan:

  • Planet Mars disini bernama Barsoom, Merkurius adalah Rasoom, Venus adalah Cosoom, sedang Bumi bernama Jasoom.
  • John Carter di Barsoom bisa melompat tinggi seperti Hulk versi Ang Lee (2003).
  • Tars Tarkas (Willem Dafoe) menyebut John Carter sebagai makhluk asing yang belum pernah dia lihat sebelumnya, padahal Dejah Thoris serta seluruh makhluk bangsa Helium dan Zodangans bentuk badannya tidak jauh berbeda dengan John Carter (termasuk pula Matai Shang).
  • John Carter adalah adaptasi dari Norman Bean “Edgar Rice Burroughs” pseudonym dengan judul asli A Princess of Mars yang dirilis tepat 100 tahun yang lalu (1912).
  • Setelah Sola (Samantha Morton) memberi ramuan dengan tujuan supaya John Carter bisa berbahasa lokal, yang terjadi kemudian malah berbalik, seluruh makhluk di film ini tiba-tiba fasih berbahasa Inggris.
  • Pernah melihat film produksi Disney lainnya menampilkan adegan seseorang memenggal kepala?
  • Inter Mundos” yang tertera di sebuah makam di film ini adalah bahasa latin yang berarti “Between Worlds
  • Andrew Stanton adalah Sutradara film animasi Finding Nemo (2003), dan WALL-E (2008). John Carter adalah film live action pertamanya.
  • Hingga hari ini (20/04/12), pendapatan John Carter di US: $ 68.834.767, worldwide: $ 200.600.000, sedang openingnya sebesar: $ 30.180.188.
  • Estimasi budget film ini adalah: $ 250.000.000

Update:

Tanggal 23 April 2012: Setelah 15 tahun (sejak tahun 1996) mengabdi untuk Disney Corporation, Rich Ross selaku Direktur Walt Disney Pictures baru-baru ini memilih mengundurkan diri dari jabatannya karena Film John Carter yang berada di bawah naungannya mengalami kerugian.

The Girl With The Dragon Tattoo

Posted in 2D, David Fincher, Drama, Film, Hollywood, Movies, Resensi on 9 April 2012 by Budi Cahyono

Filmnya sih kurang begitu ku suka, padahal awal ketika proyek ini diumumkan dan David Fincher yang menjadi sutradaranya, ekspektasi sudah membumbung tinggi karena saya memang salah satu fans film-film buatan beliau. Berdasarkan amatan awal dari trailer, termasuk klip 8 menit filmnya yang diedarkan di dunia maya beberapa hari sebelum filmnya resmi dirilis, tone filmnya sudah memberi sentuhan yang hangat dan khas. Lantas perkara apakah yang membuatku kurang begitu menyukainya? saya juga setuju Rooney Mara begitu totalitas memerankan Lisbeth Salander.

Nah, saat greget sama filmnya sudah menurun, rilisan home video-nya kembali membuatku terkesima karena keunikannya, khususnya yang dirilis dalam format DVD Region 1 (Amerika & Kanada). Mungkin terpengaruh oleh April Mop kemaren, namun kepingan cakram DVD The Girl With The Dragon Tattoo memang terlihat seperti hasil burning film lewat media komputer ke DVD kosong seharga tiga ribuan yang bisa kita temukan dengan mudah di toko ATK dan toko-toko komputer. Sebuah sensasi yang sangat unik saya pikir dan berhasil membangunkan kembali ketertarikan terhadap filmnya, berharap saja rilisan lokal (Region 3) cakram DVD film ini juga sama dengan rilisan Region 1, karena saya yakin, faktor yang mengganggu saya di film ini bakal tidak ada, setidaknya, seperti yang kita tahu, lembaga sensor perfilman di Indonesia lumayan ketat.

NB: Saya belum pernah sekalipun nonton The Girl With The Dragon Tattoo yang versi Swedia, maupun membaca novel asli berjudul sama karangan Stieg Larson.