Senin malam di kosn gak ada pacar
Hemm, begitulah risiko hubungan jarak jauh, yang kalo katanya kakek buyutku sih “long distance relationship” itu.
Daripada boring di kosn, akhirnya gue (siah, orang kampung aja ngomong loe-gue-loe-gue, oke abaikan) memutuskan berkelana sendirian mencari makan malam. Maklum perut sudah Perang Dunia III sedari siang, entah siapa yang memulai duluan, yang jelas tidak ada dua pihak yang bertikai, mungkin hanya ulah seorang kopral koplak yang gak sengaja melempar martir. Ini ngomongin apaan coba? yuk balik ke topik utama.
Sampai di bunderan DPRD setelah melewati Jalan Jawa yang dulu terkenal karena lirik nakal dari sebuah lagu berjudul “Cinta Terlarang” karya band kakak angkatanku (Twin Bee), gue (ah, kata gaul ini lagi!) jadi teringat saran dari teman tentang sebuah warung yang menyediakan menu yang beraroma dedemit dan segala asosiasi yang berhubungan dengan neraka dan semua penghuninya.
Nama warungnya adalah: Mie Setan.
——————
Saat googling gambar dengan keyword “setan lagi makan” nemu gambar ini nih.

Mimpi apa tadi siang, malemnya tiba-tiba nyantap makanan setan. Well, anyway. Hendak berpaling dari warung ini, tapi setan sudah memanggil-manggil. Hendak berpaling dari warung ini, setan di perutku sudah melunta-lunta, Hendak berpaling dari warung ini, sudah kadung bergerak lurus, kalo tiba-tiba banting kanan, bisa diseruduk kendaraan dari belakang nih. Hendak berpaling….. Udah ah, cap cus saja cin *embeeerrr*
Warung Mie Setan (sengaja ku kasih warna merah menyala) ini terletak di sebelah selatan bunderan DPRD Kabupaten Jember, tepatnya di sebuah komplek ruko baru, pas dipinggir bunderan. Karena rukonya baru, ya warungnya juga baru buka (penting gak sih?), karena baru buka, antriannya masih lumayan masya Allah.
Sebenarnya di Jember sendiri menurut telik sandi ada dua warung yang menyediakan menu mie yang konon bisa membuat anda berkepala setan, ketawa setan, dan berkeringat laiknya hidup di sebuah tempat dengan temperatur kelas neraka, yaitu Mie Gila dan Mie Setan. Pilih yang mana? Karena acuan saya gila itu tidak waras atau hilang akal sedangkan setan itu bisa kita sandingkan dengan nafsu setan, tentu saja pilihan terakhir lebih menggoda iman.
Setelah bertemu dengan tukang parkir, gue langsung bergegas menuju meja order, penasaran dengan menu apa saja yang mereka tawarkan. Namun karena sedari awal nawaitu-nya sudah ingin nyemplung ke arena yang berbau neraka, jadinya ya mesen menu andalan lah. Selain mesen Mie Setan, gue juga mesen minuman sejuta ummat sebagai pendamping makan. Apalagi kalau bukan Es Teh. Anggaplah dia sebagai pemadam kebakaran. Btw, lanjut ngomongin makan bareng setan, eh nggak dink. Menu Mie Setan-nya sendiri disini dibedakan dengan berbagai level, mulai dari level I yang mungkin berarti kacangan sampai level paling sadis atau level “hanya perut setan yang sanggup” bahkan bisa jadi “setan pun belum tentu berani nyoba“. Baca selebihnya »