Arsip Penulis

The Avenger

Posted in Arek Nonton, Bioskop, Film, Hollywood, Movies, Resensi, Review on 9 Mei 2012 by Budi Cahyono

Nonton-bareng film The Avenger bersama team Arek Nonton di SUTOS XXI, Surabaya.

Lagi-lagi nonton film di bioskop, namun kali ini berbeda dengan acara nonton film John Carter tempo hari, karena khusus film The Avenger ini, ritual nontonnya sedikit akbar, total peserta nobar berjumlah 32 orang. Filmnya sendiri berisi ensemble cast, dan rombongan penontonnya juga penikmat film semua. Klop deh :)

Apa yang membuat filmnya lumayan istimewa? Seperti halnya keistimewaan film Mission Impossible: Ghost Protocol, The Avenger rupanya disusupi banyak adegan komedi yang komikal dan berhasil menghibur. Memorable scene film ini? tentu saja saat Loki (Tom Hiddleston) marah pada Hulk (Mark Ruffalo versi CGI) sambil bilang “I am a God! I am not going to be bullied by a…” belum selesai bicara tiba-tiba Hulk membanting Loki seperti mainan sambil bilang “Puny God. ” Namun film ini secara umum masih dibawah ekspektasiku, pertama karena nuansanya yang berasa dejavu dengan film Transformers: Dark of the Moon, kedua, di beberapa adegan sempet bikin kantuk, padahal ini untuk pertama kalinya.

Baca selebihnya »

Coldplay – Paradise

Posted in Musik, Video on 29 April 2012 by Budi Cahyono

Harusnya video klip ini menjadi salah satu yang terbaik tahun lalu, namun karena baru tau setelah salah seorang sahabat meyodorkan padaku untuk memutar video ini. Hasilnya ternyata amazing! Tidak ragu rasanya, menganugerahkan video klip ini dengan gelar video klip terbaik bulan ini, meski semua orang tau, saya terlambat mengucapkannya.

Nuansanya seperti dwilogy film Madagascar dengan efek yang nyaris sama megahnya dengan video klip Kings & Queens dari 30 Second to Mars.

Perhatikan reff-nya, koord massal memang selalu membuat bulu bergidik, melodius nan megah.

Mie Setan

Posted in Food, Jember, Kuliner, Makan, Mie, Resensi, Review on 23 April 2012 by Budi Cahyono

Senin malam di kosn gak ada pacar

Hemm, begitulah risiko hubungan jarak jauh, yang kalo katanya kakek buyutku sihlong distance relationship” itu.

Daripada boring di kosn, akhirnya gue (siah, orang kampung aja ngomong loe-gue-loe-gue, oke abaikan) memutuskan berkelana sendirian mencari makan malam. Maklum perut sudah Perang Dunia III sedari siang, entah siapa yang memulai duluan, yang jelas tidak ada dua pihak yang bertikai, mungkin hanya ulah seorang kopral koplak yang gak sengaja melempar martir. Ini ngomongin apaan coba? yuk balik ke topik utama.

Sampai di bunderan DPRD setelah melewati Jalan Jawa yang dulu terkenal karena lirik nakal dari sebuah lagu berjudul “Cinta Terlarang” karya band kakak angkatanku (Twin Bee), gue (ah, kata gaul ini lagi!) jadi teringat saran dari teman tentang sebuah warung yang menyediakan menu yang beraroma dedemit dan segala asosiasi yang berhubungan dengan neraka dan semua penghuninya.

Nama warungnya adalah: Mie Setan.

——————

Saat googling gambar dengan keywordsetan lagi makannemu gambar ini nih.

Mimpi apa tadi siang, malemnya tiba-tiba nyantap makanan setan. Well, anyway. Hendak berpaling dari warung ini, tapi setan sudah memanggil-manggil. Hendak berpaling dari warung ini, setan di perutku sudah melunta-lunta, Hendak berpaling dari warung ini, sudah kadung bergerak lurus, kalo tiba-tiba banting kanan, bisa diseruduk kendaraan dari belakang nih. Hendak berpaling….. Udah ah, cap cus saja cin *embeeerrr*

Warung Mie Setan (sengaja ku kasih warna merah menyala) ini terletak di sebelah selatan bunderan DPRD Kabupaten Jember, tepatnya di sebuah komplek ruko baru, pas dipinggir bunderan. Karena rukonya baru, ya warungnya juga baru buka (penting gak sih?), karena baru buka, antriannya masih lumayan masya Allah.

Sebenarnya di Jember sendiri menurut telik sandi ada dua warung yang menyediakan menu mie yang konon bisa membuat anda berkepala setan, ketawa setan, dan berkeringat laiknya hidup di sebuah tempat dengan temperatur kelas neraka, yaitu Mie Gila dan Mie Setan. Pilih yang mana? Karena acuan saya gila itu tidak waras atau hilang akal sedangkan setan itu bisa kita sandingkan dengan nafsu setan, tentu saja pilihan terakhir lebih menggoda iman. :)

Setelah bertemu dengan tukang parkir, gue langsung bergegas menuju meja order, penasaran dengan menu apa saja yang mereka tawarkan. Namun karena sedari awal nawaitu-nya sudah ingin nyemplung ke arena yang berbau neraka, jadinya ya mesen menu andalan lah. Selain mesen Mie Setan, gue juga mesen minuman sejuta ummat sebagai pendamping makan. Apalagi kalau bukan Es Teh. Anggaplah dia sebagai pemadam kebakaran. Btw, lanjut ngomongin makan bareng setan, eh nggak dink. Menu Mie Setan-nya sendiri disini dibedakan dengan berbagai level, mulai dari level I yang mungkin berarti kacangan sampai level paling sadis atau level “hanya perut setan yang sanggup” bahkan bisa jadi “setan pun belum tentu berani nyoba“. Baca selebihnya »

Earth Day 2012

Posted in Animal, Earth Day, Film, Hari Bumi, Hewan, Lingkungan, Movies, Polution, Sosial, Tanaman, Uncategorized on 21 April 2012 by Budi Cahyono

Selamat hari Bumi buat semuanya (22/04/2012). Selain melakukan aksi sosial semisal menanam pohon dan lain sebagainya, enaknya sambil lalu nonton film yang bertemakan lingkungan.

Satu hal yang pasti, save the world!

Baru-baru ini selesai nonton WALL-E (2008), We Bought a Zoo (2011) dan Idiocracy (2006). Itu film yang ku tonton, bagaimana denganmu?

John Carter

Posted in 2D, 3D, Hollywood, Jember, Movies, Resensi, Review on 19 April 2012 by Budi Cahyono

Ah, akhirnya ke bioskop lagi. Terakhir nonton film di bioskop adalah Sherlock Holmes: A Game of Shadow akhir desember lalu di Surabaya, dan kini kembali ke bioskop untuk film John Carter di Kusuma Cineplex, Jember. Well, anyway. John Carter berkisah tentang anggota kavileri pembangkang bernama John Carter yang tiba-tiba berada di Planet Mars dengan penampakan yang “untold stories“, mendapat gelar Dotar Sojat dan dikisahkan secara flashback.

Nuansa filmnya nano-nano, mungkin saja karena kisah aslinya dianggap sebagai kisah fiksi ilmiah pertama. Pun dari beberapa nuansa film non-fiksi ilmiah lainnya. Namun John Carter datang terlambat, setelah Star Wars menjadi legenda, setelah Matrix lebih ngejelimet, dan tentu saja setelah semua film fiksi ilmiah bersetting Mars gagal di pasaran. Jadinya malah seperti sebuah pengulangan demi pengulangan cerita lawas dengan efek terkini yang sialnya tidak juga bombastis. Selain itu, kisahnya juga dirangkai dengan kedalaman yang terasa kurang dan nanggung, banyak mitologi yang belum terjelaskan dengan tuntas, dan sub-plot yang belum tergali dengan baik.

Finally. Walau beberapa sequence adegan laganya seru, tapi yang saya tunggu dari film ini adalah: Kapan film ini akan mengesankanku?

Hingga film usai, tidak jua kutemukan. Nasib… nasib

Sisanya?

Meski sudah berumur 34 tahun, Lynn Collins sebagai Dejah Thoris seksi juga yah.

In my opinion, seh……..

Beberapa penggalan review dari beberapa pengamat dan media luar negeri.

..the trouble comes when the film gets too bogged down with its storytelling, as if it’s trying too hard to avoid accusations of superficiality..” ~ Dave Golder, SFX Magazine

..the designs of everything from Martian cities to alien life forms lack the visionary qualities that lodge in one’s imagination..” ~ Peter Debruge, Variety

..nothing here compares to the sustained choreography and epic carnage of Avatar and The Lord of the Rings..” ~ Jonathan Crocker, Total Film

..it’s hard to pinpoint a standout set-piece, and every battle feels rushed..” ~ Dan Jolin, Empire Magazine

..for a Pixar graduate piece, humor is notably lacking..” ~ Todd McCarthy, Hollywood Reporter

Catatan:

  • Planet Mars disini bernama Barsoom, Merkurius adalah Rasoom, Venus adalah Cosoom, sedang Bumi bernama Jasoom.
  • John Carter di Barsoom bisa melompat tinggi seperti Hulk versi Ang Lee (2003).
  • Tars Tarkas (Willem Dafoe) menyebut John Carter sebagai makhluk asing yang belum pernah dia lihat sebelumnya, padahal Dejah Thoris serta seluruh makhluk bangsa Helium dan Zodangans bentuk badannya tidak jauh berbeda dengan John Carter (termasuk pula Matai Shang).
  • John Carter adalah adaptasi dari Norman Bean “Edgar Rice Burroughs” pseudonym dengan judul asli A Princess of Mars yang dirilis tepat 100 tahun yang lalu (1912).
  • Setelah Sola (Samantha Morton) memberi ramuan dengan tujuan supaya John Carter bisa berbahasa lokal, yang terjadi kemudian malah berbalik, seluruh makhluk di film ini tiba-tiba fasih berbahasa Inggris.
  • Pernah melihat film produksi Disney lainnya menampilkan adegan seseorang memenggal kepala?
  • Inter Mundos” yang tertera di sebuah makam di film ini adalah bahasa latin yang berarti “Between Worlds
  • Andrew Stanton adalah Sutradara film animasi Finding Nemo (2003), dan WALL-E (2008). John Carter adalah film live action pertamanya.
  • Hingga hari ini (20/04/12), pendapatan John Carter di US: $ 68.834.767, worldwide: $ 200.600.000, sedang openingnya sebesar: $ 30.180.188.
  • Estimasi budget film ini adalah: $ 250.000.000

Update:

Tanggal 23 April 2012: Setelah 15 tahun (sejak tahun 1996) mengabdi untuk Disney Corporation, Rich Ross selaku Direktur Walt Disney Pictures baru-baru ini memilih mengundurkan diri dari jabatannya karena Film John Carter yang berada di bawah naungannya mengalami kerugian.

The Girl With The Dragon Tattoo

Posted in 2D, David Fincher, Drama, Film, Hollywood, Movies, Resensi on 9 April 2012 by Budi Cahyono

Filmnya sih kurang begitu ku suka, padahal awal ketika proyek ini diumumkan dan David Fincher yang menjadi sutradaranya, ekspektasi sudah membumbung tinggi karena saya memang salah satu fans film-film buatan beliau. Berdasarkan amatan awal dari trailer, termasuk klip 8 menit filmnya yang diedarkan di dunia maya beberapa hari sebelum filmnya resmi dirilis, tone filmnya sudah memberi sentuhan yang hangat dan khas. Lantas perkara apakah yang membuatku kurang begitu menyukainya? saya juga setuju Rooney Mara begitu totalitas memerankan Lisbeth Salander.

Nah, saat greget sama filmnya sudah menurun, rilisan home video-nya kembali membuatku terkesima karena keunikannya, khususnya yang dirilis dalam format DVD Region 1 (Amerika & Kanada). Mungkin terpengaruh oleh April Mop kemaren, namun kepingan cakram DVD The Girl With The Dragon Tattoo memang terlihat seperti hasil burning film lewat media komputer ke DVD kosong seharga tiga ribuan yang bisa kita temukan dengan mudah di toko ATK dan toko-toko komputer. Sebuah sensasi yang sangat unik saya pikir dan berhasil membangunkan kembali ketertarikan terhadap filmnya, berharap saja rilisan lokal (Region 3) cakram DVD film ini juga sama dengan rilisan Region 1, karena saya yakin, faktor yang mengganggu saya di film ini bakal tidak ada, setidaknya, seperti yang kita tahu, lembaga sensor perfilman di Indonesia lumayan ketat.

NB: Saya belum pernah sekalipun nonton The Girl With The Dragon Tattoo yang versi Swedia, maupun membaca novel asli berjudul sama karangan Stieg Larson.

War Horse

Posted in 2D, 3D, Academy Awards (Oscar), Animasi, Disney, Film, Foreign, Hollywood, Movies, Resensi, Review, Steven Spielberg on 4 April 2012 by Budi Cahyono

Semenjak merilis film Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull (2008) yang menuai kritik tajam karena dinilai terlalu absurd dan jauh dari harapan publik, Steven Spielberg lebih sering berada di kursi produser film-film blockbuster. Di tahun 2011 saja dia tercatat memproduseri enam film komersil (belum termasuk serial televisi dan sebuah wahana di Singapura) yang tentu saja laris manis, bisa jadi ini adalah hobinya hingga beberapa tahun kedepan. Lantas apa yang terjadi ketika dia kembali menyutradarai film layar lebar? beliau langsung membuat tiga proyek sekaligus, yakni kisah berbentuk animasi yang di adapatasi dari komik karangan Herge berjudul The Adventure of Tintin: Secret of the Unicorn 3D (2011), Lincoln (2012) yang sedianya akan dirilis tahun ini dengan memasang aktor Inggris, Daniel Day-Lewis sebagai presiden Abraham Lincoln, dan tentu saja, sebuah film yang dibuat secara “diam-diam” yang judulnya sesuai dengan judul postingan kali ini.

War Horse (2011) adalah film tentang Joey, seekor kuda yang pada awalnya dibeli oleh Ted Narracot (Peter Mullan) untuk membantu melakukan pekerjaan tani dan kebun. Namun, perang dunia akhirnya membuat kuda ini terpaksa dipakai untuk keperluan militer, dari sanalah petualangan kuda ini dimulai.

Filmnya sendiri seperti lebih difokuskan pada karakter non-human, Joey, si kuda perang yang melanglang buana dari majikan satu ke majikan yang lain. Bahkan hingga berhasil menyatukan dua kelompok yang bertikai dan remaja yang sedang kasmaran. Setidaknya, War Horse berhasil mengingatkanku pada film Spirit: Stallion of the Cimarron (2002) namun dengan scoring yang kalah jauh dari punyaannya Hans Zimmer plus beberapa lagu melodius dari Bryan Adams.

Well, anyway. Layaknya film yang memfokuskan karakter non-human pada umumnya, praktis asupan akting dari karakter human-nya terlihat seperti biasa-biasa saja. Beberapa scene tingkah laku Joey di film ini berhasil pula menarik perhatianku, khususnya saat dia “diam-diam” sedang jatuh cinta pada seekor kuda betina yang ia temui saat di markas militer, cara dia menarik perhatian si kuda betina begitu romantis. Atau, adakah diantara kalian yang terheran-heran oleh ulah angsa yang akan “memangsa” siapapun yang lewat di depan rumah Albert Narracott (Jeremy Irvine)?? Hemm..

——————————

Terinspirasi dari tingkah unik karakter-karakter non-human di film War Horse, berikut adalah beberapa hewan yang menjadi scene stealer di beberapa film yang dirilis pada tahun 2011. Baca selebihnya »

We Bought a Zoo

Posted in 2D, Drama, Film, Hollywood, Movies, Poster, Quote, Resensi, Review on 2 April 2012 by Budi Cahyono

—————————————–

“You know, sometimes all you need is twenty seconds of insane courage. Just literally twenty seconds of just embarrassing bravery. And I promise you, something great will come of it.” ~ Benjamin Mee

We Bought a Zoo adalah kisah nyata tentang seorang penulis sekaligus petualang, Benjamin Mee (Matt Damon) yang ditinggal istrinya, Katherine Mee (Stephanie Szostak), dan membeli sebuah rumah di pinggiran kota lengkap dengan kebun binatang yang diasuh oleh Kelly Foster (Scarlett Johansson). Latar belakang pemilihan rumah dengan biaya tagihan perawatan hewan perbulannya yang tergolong mahal ini dipilih karena Rosie Mee (Maggie Elizabeth Jones), anaknya, sangat suka dengan suasana tenang dan tentu saja, interaksi dengan berbagai macam binatang.

Sebuah film keluarga yang meski ringan, laiknya makanan ringan lainnya, rasanya begitu gurih dan renyah dengan tanpa mengesampingkan hikmah yang muncul disana-sini. Dan uniknya, juga disampaikan dengan cara yang sama ringannya, seceria wajah Rosie Mee yang imut dan lucu itu, mengingatkan kita pada Afika yang tempo hari menjadi hit.

NB: Jadi pengen nonton film Poscards from the Zoo nih, film Indonesia yang juga bersetting di kebun binatang dan diperan utamai oleh Ladya Cheryl dan Nicholas Saputra. Film ini tayang perdana di Berlin International Film Festival lho atau yang lebih dikenal dengan sebutan Berlinale (Internationale Filmfestspiele Berlin).

Hugo

Posted in 2D, 3D, Film, Movies, Resensi, Review on 9 Maret 2012 by Budi Cahyono

Jika anda merasa pergelaran Academy Awards tahun ini banyak di dominasi dari Negara Perancis, khususnya kota Paris dengan ikon menara Eiffelnya yang sudah mahsyur, maka saya tidak sendiri. Lebih jauh lagi, aneh sebenarnya, jika film-film berseting Perancis, dengan karakter tokoh utamanya yang juga Perancis, lantas bahasa yang digunakan adalah Inggris, mengingat orang Perancis (berikut sebagian besar warga Eropa lainnya) lebih keukeuh menggunakan bahasa nasionalnya, tapi ah, Hollywood gitu loooh.

Sala satunya adalah film ini, namun saya tidak akan mereview filmnya, dan hanya akan mengutip Memorable Quote dari film yang berjudul Hugo itu, sebuah film karya Martin Scorsese tanpa Robert de Niro dan Leonardo DiCaprio. Mungkin esok Martin akan menggabungkan keduanya, namun untuk saat ini, inilah film dari Martin yang bernuansa khas untuk anak-anak dan remaja dan tentu saja, film 3D pertamanya.

Hugo Cabret: I’d imagine the whole world was one big machine. Machines never come with any extra parts, you know. They always come with the exact amount they need. So I figured, if the entire world was one big machine, I couldn’t be an extra part. I had to be here for some reason.

Georges Méliès: If you’ve ever wondered where your dreams come from, you look around… this is where they’re made.

Isabelle: This might be an adventure, and I’ve never had one before – outside of books, at least.

Mama Jeanne: Georges, you’ve tried to forget the past for so long, but it has caused you nothing but unhappiness. Maybe it’s time you tried to remember.

Georges Méliès: My friends, I address you all tonight as you truly are; wizards, mermaids, travelers, adventurers, magicians… Come and dream with me.

Menelusuri film adaptasi novel karangan Brian Selznick bagaikan mengulik kembali lembaran tentang sejarah sinema, bisa jadi ini adalah surat cinta dari Martin Scorsese buat dunia seni yang telah memberinya makna hidup, pun sekaligus juga merupakan surat cinta dari dunia sinema itu sendiri.

Very recommended! :)

The Iron Lady

Posted in Film, Movies, Resensi, Review on 13 Februari 2012 by Budi Cahyono

Motif awal nonton film The Iron Lady adalah Maryl Streep, tidak lain dan tidak bukan. Meski setelah nonton saya seperti sedang diajak untuk memetakan kembali pengetahuan perihal perkembangan politik di Inggris, terutama perang Fakland dan hak-hak buruh yang terguncang kala itu, namun, seperti halnya dugaan saya pada duet sineas Mamma Mia (2008), Phylida Lloyd dengan penulis naskah Shame (2011), Abi Morgan, mereka memang memfokuskan diri menggali kepiawaian Maryl Streep untuk menginterpretasikan ulang sosok prime minister, Margaret Thatcher yang terkenal otoriter dan tidak peragu itu.

Pun, selain nuansa filmnya yang sejuk dan pemilihan kostumnya yang terbilang bagus (membuahkan satu lagi nominasi Oscar setelah kategori aktris terbaik), The Iron Lady juga dituturkan dengan gaya saling-silang antara Thatcher muda dan lantang ketika berkuasa serta Thatcher lansia yang pikun dan tertatih-tatih.

Nah, dari sana, point yang agak menarik bagi saya adalah pemilihan Maryl Streep, bukan soal akting tentunya, melainkan karena dia adalah aktris Amerika. Lebih luas lagi, penelusuran sederhana yang saya buat kemudian kembali membuahkan hasil yang unik perihal pemilihan pemain seperti contoh film The Iron Lady.

*****

Penampilan Meryl Streep dan Margaret Thatcher asli.

Yang pertama adalah: Sang “newMan of Steel, Henry Cavill dan karakter ikonik Amerika, Superman. Karena seperti yang kita tau, Cavill sendiri adalah aktor asal Inggris. The Man of Steel arahan sineas 300, Zack Snyder, akan dirilis musim panas 2013. Selain Kevin Costner, Russel Crowe dan Amy Adams, Michael Shannon akan menjadi General Zod disini.

Kemudian ada Daniel Day-Lewis yang akan memerankan tokoh Presiden paling terkenal di Amerika, Abraham Lincoln dan disutradarai oleh Steven Spileberg. Spielberg berujar, pemilihan Daniel semata karena dia adalah aktor hebat. Lincoln akan dirilis di tahun yang sama (2012) dengan Lincoln lain arahan Timur Bekmanbetov, Abraham Lincoln: Vampire Hunter.

Sherlock Holmes, detektif asal 221B Baker Street adaptasi dari novel rekaan Sir Arthur Conan Doyle versi Guy Ritchie ini dimainkan oleh aktor Amerika, Robert Downey Jr. Terakhir dia hampir tewas saat melawan anak buah Profesor Moriaty dan kemungkinan sekuel kedua paling cepat akan dirilis tahun 2013.
Adakah aktor-aktris lain yang bermain di film seperti contoh diatas? yuk share disini.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 61 pengikut lainnya.